Pada tulisan yang lalu, gue menulis perlunya agar kita membayar diri kita terlebih dahulu untuk membangun asset. Kali ini gue akan menulis tentang tips ke tiga yaitu :
3. Hiduplah sesuai kemampuan
Setiap orang punya keinginan-keinginan dalam hidupnya. Ingin punya TV terbaru, ingin berlibur ketempat yang indah, ingin punya mobil, ingin punya motor, ingin makan enak, dll, dll. Semua-nya itu adalah sah-sah saja (selama uang yang dipakai adalah uang yang halal lho ya !!
) karena mempunyai keinginan adalah fitrah dari manusia. Tanpa keinginan (atau nafsu), maka bisa dibilang manusia tersebut tidaklah utuh.
Nah, dalam hubungannya dengan cashflow, menurut saya keinginan2 manusia itu pada dasarnya bisa digolongkan menjadi dua, yaitu keinginan akan produk-produk produktif atau konsumtif.
Apa itu produk-produk produktif dan konsumtif ? Gampang saja, menurut gue produk-produk produktif adalah produk yang bisa mendatangkan uang ke dompet kita. Sedangkan produk konsumtif adalah produk yang mengeluarkan uang dari dompet kita.
Kok kayaknya pernah denger ya ? Tepat sekali. Memamg definisi ini mirip sekali dengan definisi Asset dan Liabilities.
Sebetulnya apa2 yang kita beli dan belanjakan pasti akan masuk ke dalam dua produk tersebut. Sesungguhnya itulah yang membedakan antara kebiasaan orang yang benar2 kaya dengan orang miskin dan kelas menengah.
“Orang miskin dan kelas menengah mengeluarkan uangnya untuk membeli barang2 konsumtif, sedangkan orang kaya mengeluarkan uangnya untuk membeli asset.”
Dalam bukunya (Rich Dad Poor Dad), Kiyosaki bahkan berani menekankan bahwa menyadari perbedaan antara asset dan liabilitias itulah kunci no 1 untuk menjadi kaya yang sesungguhnya.
Nah apa hubungannya antara hidup sesuai kemampuan ?
Seperti sudah gue tulis di atas, mempunyai keinginan-keinginan adalah hal yang manusiawi. Tetapi adalah penting bagi kita untuk menyadari apakah keinginan-keinginan itu sudah sesuai dengan kemampuan finansial dan tujuan finansial kita. Alangkah bijaknya bila dalam pemenuhan keinginan tersebut kita juga mempertimbangkan tujuan finansial kita, yaitu menjadi kaya yang sebenarnya.
Sering kita mendengar atau membaca cerita tentang orang yang jatuh bangkrut dikarenakan dia terlalu memenuhi keinginan-keinginan atas produk (yang sebetulnya belum tentu dia butuhkan) tanpa mempertimbangkan kemampuan finansialnya sehingga dia memaksakan untuk berhutang sana. Gesek kartu kredit sana dan sini. Di akhir bulan bingung karena tagihan menumpuk. Akhirnya hutang sana dan sini. Gali lobang dan tutup lobang. Padahal semua barang yang dibeli terkadang hanya untuk gengsi, bukan karena memang dibutuhkan.
Ok, gue sadar gengsi memang penting, tetapi ketahuilah gengsi saja tidak akan memperbaiki kondisi finansial kita dan itu tidak akan berarti apa2 didepan kreditur kamu. Kamu kan gak bisa bayar hutang pake gengsi kan ? ![]()
Terkadang kebiasaan itu juga disebabkan karena kita mencampur baurkan antara keinginan dan kebutuhan. Padahal, kedua hal tersebut adalah sangat berbeda jauh. Beda jauh sekali bagaikan langit dan bumi, bagaikan harum bunga bangkai dengan harum bunga mawar. Bagaikan asterix dengan obelix (lho !
).
Di dalam buku-nya Safir Senduk (”Siapa bilang jadi karyawan tidak bisa kaya ?”, disebutkan perbedaaan antara kebutuhan dan keinginan, yaitu :
1. Kebutuhan ada batasnya, sedang keinginan tidak ada batasnya. Contoh paling gampang menyadarinya adalah pada saat kita lagi puasa. Pada saat kita sedang berpuasa, karena pengaruh perut lapar kita akan menginginkan dan membayangkan pada saat makan nanti bakal minum es teh terus dilanjut ama es campur, terus makannya sate kambing, soto betawi ama nasi goreng. Imajinasi kita kemudian terus menggurita akan semua menu yang akan kita santap nanti pada saat berbuka. Padahal, setelah waktunya berbuka, yang dibutuhkan tubuh kita paling hanya segelas air putih dan 3 butir kurma dan badan kita sudah mengirimkan sinyal cukup (perut penuh dan badan segar kembali). Kemampuan perut kita setelah seharian berpuasa untuk diisi kembali itu memang ada batasnya.
2. Kebutuhan itu terkadang tidak bisa ditunda pemenuhannya sehingga seharusnya menjadi prioritas kita, sedangkan keinginan itu bisa ditunda. Contohnya kebutuhan akan bensin buat kendaraan kita itu adalah KEBUTUHAN karena tanpa itu mobil kita tidak berguna. Tetapi membeli velk baru buat mobil kita adalah KEINGINAN karena tanpa itupun mobil masih bisa kita gunakan.
3. Kebutuhan tidak selalu kita inginkan dan Keinginan tidak selalu kita butuhkan. Semua yang kita butuhkan terkadang tidak kita inginkan, tetapi karena kita BUTUH ya kita beli. Contohnya adalah Listrik, Pulsa HP, sembako, dll. Disisi lain, keinginan kita terkadang tidak kita butuhkan contohnya misalkan pengen HP model baru (padahal HP kita baru 2 bulan pakai dan masih berfungsi baik), pengen TV LCD 29? baru (padahal baru aja ganti TV Flat seminggu yang lalu) dll, dll.
Untuk itulah menyadari dorongan impuls di dalam diri kita dalam setiap pembelian produk produk di luar sana adalah sangat penting.
Tanyakan dulu pertanyaan sbb sebelum kita membeli barang :
1. apakah benar barang ini benar2 saya butuhkan ?
2. bila iya, apakah kamu sudah mensurvey harga produk tsb di paling tidak 2 tempat lain ?
3. apakah ada pilihan barang yang bisa memenuhi kebutuhan kita dengan harga yang lebih murah dengan kualitas yang hampir sama ?
4. Apakah saya membeli karena diskon ? (Note : Penting dicatat adalah “Jangan sekali2 membeli sesuatu karena melihat barang tersebut di diskon !!” )
Nah kembali kepada cashflow, apa guna kegunaan cashflow bagi kita sebagai panduan pemenuhan kebutuhan dan keinginan kita ? Jawaban-nya sederhana : Dengan melihat cashflow, kamu bisa mendapatkan gambaran sesungguhnya kemampuan finansial kamu dan dengan menggunakan cashflow, maka akan terlihat hal-hal yang harus diprioritaskan dan harus dibayar terlebih dahulu (karena itu merupakan kebutuhan).
Ingat lho !! Sekarang, membayar diri kamu terlebih dahulu pun merupakan “Kebutuhan”, jadi itupun harus dimasukkan dalam item yang harus kamu dahulukan. Setelah semua yang merupakan kebutuhan terbayar, barulah gunakan sisa dari pendapatan kamu gunakan untuk membeli keinginan2 kamu.
Mengambil contoh cashflow Budi, maka akan terlihat bahwa Budi mungkin akhirnya hanya akan mempunyai uang kurang dari 75rb untuk membeli barang yang menjadi keinginan dia per bulan. Hmmm… tidak banyak ya ? Dia terlebih dahulu harus menuntaskan hutang KPR, Motor dan Kartu kredit A dan B, sebelum bisa mempunyai dana yang lebih besar untuk membeli apa yang dia inginkan setiap bulan-nya.
Inilah yang gue maksud dengan “Hiduplah sesuai kemampuan”. Karena dengan hidup sesuai kemampuan kita, kita tidak akan gampang terdorong membeli sesuatu hanya karena kita ingin. Kita hanya akan membeli sesuatu bila itu kita butuhkan. Dan bila kita membeli sesuatu, maka biaya-nya masih masuk dalam dana yang kita punya sehingga tidak menyebabkan cashflow kita “berdarah-darah”. ![]()
Penting untuk dicatat bahwa untuk pembelian barang yang kamu inginkan, hindarilah berhutang. Bila uang kamu belum cukup untuk membeli barang yang menjadi keinginan kamu, maka tabung saja uang kamu. Tahan keinginan tersebut. Tanyakan kembali pertanyaan diatas 2-3 kali sebelum membeli barang tersebut.
Lho kok aku mendengar komentar kayak gini yah “Wah kalo gitu mah, gue gak bisa nonton di bioskop ama yayang dong !!” atau “wah kok sisanya cuman segini ?! Mana cukup buat dugem/senang-senang ama teman ?! “.
Nah sekarang gue balik tanya “Mana yang menjadi prioritas kamu ? Cashflow sehat atau cashflow berantakan ?”.
Tidak ada hasil yang bisa dicapai tanpa usaha Bung !! Semua butuh proses dan pengorbanan. Pertanyaannya sekarang “kamu mau berantakan sekarang, senang2 nanti atau senang2 sekarang, berantakan nanti ? ”
Apa yang akan kita dapatkan dimasa depan adalah apa yang kita usahakan sekarang. Omong kosong besar bisa dapat hasil tanpa usaha !! Buat gue, pepatah “muda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk surga” adalah omongan ngawur orang tidak punya otak !! “So…it’s your choice !!”
Hehe.. kesannya kok keras sekali ya ? Hmmm.. tetapi ketahuilah bahwa memang sikap keras itu dibutuhkan terutama kepada diri kita sendiri. Ada yang pernah bilang bahwa “Bila kita keras kepada diri kita sendiri, maka dunia akan berbaik hati kepada kita”. Buat gue, ucapan ini adalah benar adanya karena itu sebetulnya makna-nya setali tiga uang dengan “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian” yang sudah teruji kebenarannya sepanjang jaman. Kamu setuju ? ![]()
Kayaknya sampai disini dulu. Pada tulisan gue berikutnya gue akan membahas tentang pentingnya untuk “Terus perbesar aset dan awasi terus hutang non produktif”. So stay tune… !!!




















hey bung sigit salam kenal , aku unyil , aku sangat setuju dengan pemikiran anda , aku pikir tidak ada orang yg berfikir gitu ter nyata aku menemukan orang yg tepat ,
tak dukung terus dech 100% halal , walo jadi karyawan seperti aku tapi bebas dari hutang lhoooo.makasih ya allah , met success bung sigit
dariku unyil
lam kenal juga nyil…hehehehe.. makasih udah mau mampir dan mau kasih komentar. Eh, banyak lagi yang punya pikirin kayak kita, cuman memang tidak terlihat aja.. makasih ya dan mampir lagi lain kali
thanx bro ,, tulisan2 spt ini yg saya butuhkan !!
ditunggu tulisan2 lainnya .. bravo